Friday, August 9, 2019

Karangan Ilmiah

Karangan Ilmiah

A. PENDAHULUAN

Bagian pendahuluan dalam karangan ilmiah merupakan bagian yang mengungkapkan posisi suatu masalah dan perlunya kajian atau penelitian dilakukan. Bagian ini mengungkapkan informasi dan deskripsi tentang permasalahan penelitian atau kajian. Oleh karena itu, dalam karangan ilmiah berbentuk skripsi, tesis, dan disertasi biasanya pada bagian ini terdapat latar belakang masalah, identifikasi dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian atau kajian, asumsi atau hipotesis penelitian (jika penelitiannya berhipotesis), kerangka pikir penelitian atau paradigma penelitian.

Pada karangan ilmiah populer, artikel, laporan buku, atau makalah biasanya aspek-aspek di atas diungkapkan dengan tanpa menggunakan pembagian secara tegas atas aspek-aspek itu. Pada jenis karangan ilmiah tersebut, aspek-aspek itu tersaji dalam beberapa paragraf, tetapi pada hakikatnya mengungkapkan beberapa aspek itu. Pada dasarnya, bagian pendahuluan dalam karangan ilmiah menyajikan posisi masalah yang memerlukan kajian atau penelitian.

Sebagaimana diungkapkan, bahwa dalam karangan ilmiah jenis skripsi, tesis, dan disertasi aspek-aspek yang terdapat dalam bagian pendahuluan dipisahkan secara khusus dalam bagian terpisah. Oleh karena itu, pada jenis karangan tersebut terdapat sub-subbab yang mengupasnya.

a. Latar Belakang Masalah

Aspek latar belakang masalah pada bagian pendahuluan biasanya berisi deskripsi tentang kedudukan masalah tersebut. Latar belakang masalah biasanya mendeskripsikan mengapa masalah itu ada dan timbul berdasarkan analisis penulis atau mengapa suatu hal dianggap masalah oleh penulis. Latar belakang masalah merupakan paparan tentang adanya ketimpangan antara suatu ketentuan dengan kenyataan. Berdasarkan paparan tersebut penting untuk dikaji atau diteliti, baik berimplikasi pada perkembangan ilmu atau pada kepentingan pembangunan.

Latar belakang masalah merupakan bagian yang mengungkapkan masalah yang membuat penulis gelisah dan resah jika masalah tersebut tidak dikaji atau diteliti. Pada bagian ini diungkapkan kedudukan masalah yang akan dikaji atau diteliti dan posisi masalah tersebut dalam perspektif bidang keilmuan penulis.

Penyajian bagian latar belakang dilakukan dengan cara mengkonfrontasi antara teori atau konsep-konsep dengan fenomena yang terjadi. Penyajian bagian ini dapat pula dilakukan dengan mengungkap suatu ketentuan, pedoman,

peraturan yang seharusnya dilaksanakan, tetapi kenyataannya tidak demikian sehingga menimbulkan suatu masalah. Bagian ini dapat pula berupa penyajian prediksi logis terhadap sesuatu yang dianggap sebagai penyebab dari suatu fenomena yang menimbulkan masalah.

b. Identifikasi Masalah dan Rumusan Masalah
Identifikasi dan rumusan masalah sering digunakana penulis karangan ilmiah berseiringan. Kadang-kadang penulis hanya menggunakan salah satu diantaranya, tetapi kadang-kadang keduanya digunakan. Hal itu bergantung pada kondisi karangan ilmiah tersebut, jika penulis memandang bahwa dalam latar belakang posisi studi masih dipandang belum problematis dan belum ajeg sebagai masalah, maka posisi permasalahan dibahas pada bagian identifikasi masalah. Dengan demikian, pada bagian identifikasi masalah, permasalahan kajian atau penelitian dikerucutkan atau difokuskan, sehingga dalam merumuskan permasalahan tidak perlu mencantumkan kembali fokus kajian.

Bagian rumusan masalah merupakan bagian yang menjelaskan permasalahan yang akan dikaji atau diteliti. Rumusan masalah dalam karangan ilmiah biasanya disajikan dalam bentuk kalimat interogatif (kalimat pertanyaan). Namun, pertanyaan dalam rumusan masalah harus dapat terukur oleh aktivitas kajian yang akan dilakukan. Kata tanya yang dapat digunakan pada bagian rumusan masalah misalnya “apakah atau bagaimanakah”. Apakah penulis karangan ilmiah memandang bahwa rumusan masalah dalam penelitian yang akan dilakukan perlu diperinci kembali ke dalam bagian yang lebih spesifik dalam dilakukan dengan menurunkan rumusan masalah ke dalam bagian yang lebih terperinci.

Bagian rumusan masalah pada kajian atau penelitian yang memiliki multi variabel, biasanya penyajiannya dikaitkan dengan variabel-variabel yang akan diteliti dan merumuskan kaitan antarvariabel yang akan dibertemalikan. Bahkan, penulis karangan ilmiah yang cermat akan merumuskan masalah dengan pertanyaan-pertanyaan indikator dari setiap variabel yang diteliti atau dikaji. Namun, jika penelitiannya hanya mencermati satu variabel, maka rumusan masalah itu akan mempertanyakan kemungkinan kaitan antara indikator dengan variabel tersebut sebagai fokus kajian.

Rumusan masalah dalam karangan ilmiah juga berfungsi sebagai pemandu bagi penulis untuk mencari tahu dan mencari jawaban atas masalah yang dirumuskan itu. Rumusan masalah juga akan membimbing pembahasan dalam karangan ilmiah, sehingga pengupasan fakta atau temuan dimaksudkan untuk menjawab rumusan tersebut.

c. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Aspek tujuan dan manfaat penelitian dalam bagian pendahuluan karangan ilmiah biasanya berseiring dengan rumusan masalah. Tujuan penelitian disajikan untuk mengeksplisitkan arah penelitian pada target yang harus didapatkan dari suatu kajian atau penelitian.

Dalam jenis karangan ilmiah laporan penelitian, biasanya tujuan penelitian diarahkan pada pemecahannya masalah-masalah praktis yang menjadi ketimpangan atau problematika. Demikian pula dengan manfaat penelitian, biasanya dipecah ke dalam manfaat teoritis dan manfaat praktis. Manfaat teoretis diarahkan pengembangan ilmu pengetahuan, sedangkan manfaat praktis dimaksudkan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Penulisan subbab tujuan dan manfaat penelitian biasanya digabungkan. Kemudian subbab tersebut, dipecah kembali ke dalam dua bagian kecil jika penulis karangan ilmiah menggunakan kedua terminologi itu secara berbeda. Namun, kadang-kadang penulis karangan ilmiah hanya menggunakan tujuan penelitian atau tujuan penulisan, jika karangan ilmiah yang dibuatnya berupa laporan penelitian atau kajian serta jenis karangan ilmiah populer lainnya.

d. Landasan Teori

Bagian landasan teori dalam karangan ilmiah ditempatkan pada bagian kedua, setelah bagian pendahuluan. Penggunaan judul bagian ini disesuaikan dengan isi utama yang disajikan. Meskipun demikian, biasanya pada suatu lembaga pendidikan tinggi biasanya dianut suatu konvensi yang sering dilakukan para penulis karangan ilmiah. Pada institusi tertentu ada konvensi yang menjudulinya bagian ini dengan “Landasan Teori”, tetapi pada institusi lain ada konvensi dalam menjuduli bagian tersebut dengan konsep teori utama dari serangkaian teori yang disajikan pada bagian itu.

Landasan teori merupakan deskripsi lengkap teori-teori yang digunakan. Setiap teori yang bertemali dikupas dalam bagian ini dan disusun menjadi sebuah rangkaian argumen keilmuan.

Penyajian aspek-aspek validitas penelitian pada bagian ini bergantung pada jenis dan kriteria validitas yang dipilih. Pengungkapan aspek-aspek validitas penelitian ini, disajikan secara berurutan dan terperinci. Setiap jenis validitas yang dipandang menguatkan atau melemahkan keabsahan penelitian.
B. PEMBAHASAN

Bagian pembahasan dalam karangan ilmiah merupakan bagian yang jumlahnya paling mendominasi karangan ilmiah. Kekuatan karangan ilmiah akan ditunjukkan oleh keandalan peneliti dalam menyajikan bagian pembahasan. Dalam jenis karangan ilmiah artikel atau makalah untuk jurnal atau pertemuan ilmiah biasanya bagian ini merupakan bagian yang tampak sebagai bagian yang dari jumlah bagiannya mendominasi karangan ilmiah. Pada karangan ilmiah jenis skripsi yang menggunakan pendekatan kuantitatif, biasanya sering terabaikan manakala peneliti telah dapat membuktikan hipotesis. Padahal, seharusnya pada bagian pembahasan ini penulis mendiskripsikan data empiris dengan berbagai konsep teoretis yang dijadikan landasan penelitian.

Bagian pembahasan merupakan bagian yang menyajikan deskripsi dari kegiatan penerimaan atau penolakan hipotesis penelitian, jika penelitian berhipotesis. Selain deskripsi ini, pada bagian tersebut disajikan pula penafsiran dari pembuktian hipotesis penelitian. Penafsiran terhadap pengujian hipotesis disajikan keterkaitan antara dasar-dasar teori yang digunakan dengan bukti empiris.

Pada bagian ini penulis karangan ilmiah melakukan discussionantara temuan atau pembuktian data empiris dengan berbagai dasar teoritis. Penataan pembahasan penelitian dalam karangan ilmiah biasanya disesuaikan dengan rumusan masalah yang telah ditetapkan pada bagian pendahuluan. Mungkin saja, penulis karangan ilmiah menatanya dengan mengurutkan setiap rumusan masalah dalam bentuk pernyataan deklaratif sehingga ada kaitan antara rumusan masalah dengan pembahasan sistematis.

Penulis karangan ilmiah yang andal akan memandang bagian pembahasan merupakan bagian inti dari argumen yang disajikan dalam karangan ilmiah. Pada bagian ini penulis menyodorkan argumen yang ditopang oleh pembuktian data empiris dan konsep teoritis. Oleh karena itu, bagian ini merupakan kekuatan argumen ilmiah yang disajikan dalam karangan ilmiah.

Penyajian bagian pembahasan pada karangan ilmiah jenis makalah, laporan ilmiah, skripsi, tesis, atau disertsi biasanya ditempatkan pada bagian atau bab tersendiri setelah bagian metode penelitian. Pada karangan ilmiah jenis makalah ilmiah, kertas kerja, atau artikel ilmiah biasanya disajikan pada bagian tengah karangan sebelum bagian penutup atau bagian simpulan.

C. SIMPULAN DAN SARAN

Bagian simpulan dan saran merupakan bagian akhir dari karangan ilmiah. Bagian ini harus merupakan pernyataan deklaratif sebagai jawaban dari rumusan masalah. Penyajian bagian ini harus memiliki kesejalanan dengan bagian pendahuluan dan pembahasan karangan ilmiah.

Pada karangan ilmiah jenis makalah ilmiah, laporan ilmiah, skripsi, tesis, atau disertasi, bagian simpulan bukan bagian yang menyajikan pembuktian hipotesis, jika penelitiannya berhipotesis. Bagian ini pada hakikatnya menyajikan argumen ilmiah utama dari karangan ilmiah setelah pada bagian sebelumnya disajikan pembahasan empiri dengan teori. Argumen ilmiah pada bagian simpulan merupakan argumen pokok dari penulis berdasarkan penelitian.

Bagian saran dalam karangan ilmiah merupakan rekomendasi dari penelitian. Saran yang disajikan harus berdasarkan simpulan penelitian, sehingga bukan merupakan pikiran atau pendapat penulis tentang suatu fenomena. Saran merupakan tindak lanjut atau suatu implementasi dari penyelesaian suatu permasalahan yang disajikan berdasarkan hasil penelitian atau kajian.

Penyajian bagian simpulan dan saran pada karangan ilmiah jenis laporan penelitian, makalah ilmiah, skripsi, tesis, atau disertasi disajikan pada bab tersendiri, sedangkan pada karangan ilmiah jenis artikel atau kertas kerja merupakan bagian akhir karangan ilmiah sebelum daftar pustaka.











Tuesday, August 6, 2019

Kohesi Dan Koherensi

Kohesi Dan Koherensi

Kohesi merujuk ke perpautan bentuk, sedangkan koherensi pada perpautan makna. Pada umumnya wacana yang baik memiliki kedua-duanya. Kalimat atau kata yang dipakai itu berkaitan, pengertian yang satu menyambung pengertian yang lain secara berturut-turut.

Kohesi adalah keserasian hubungan antara unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana sehingga terciptalah pengertian yang apik atau koheren. Kalimat Ratna dan kawannya pergi karena ia harus mendaftar tidaklah kohesif karena ia tidak jelas mengacu kepada siapa Ratma atau kawannya. Agar kalimat ini menjadi kohesif, kata Ratnaatau kawannyadapat diulang untuk menggantikan ia, tergantung pada arti yang diinginkan oleh pembicara. Salah satu unsur kohesi ialah hubungan sebab-akibat, baik antarklausa maupun antarkalimat. Hubungan sebab ditandai oleh kata seperti sebabdan karena, sedangkan hubungan akibat oleh kata sebabitudan karena itu. Karena kenyataan ini, perlu dipisahkan dua macam hubungan itu.

Banyak klausa atau kalimat yang dari segi maknanya memang berkodrat untuk menjadi penyebab, dan banyak pula klausa atau kalimat lain yang kodratnya menjadi akibat, bila kedua macam ini dijejerkan.

Kohesi dapat pula dibentuk dengan hubungan unsur-unsur yang menyatakan :

a. Pertentangan dengan memakai kata penghubung tetapi atau namun.

b. Kelebihan dengan memakai kata penghubung malahan atau bahkan.

c. Perkecualian dengan memakai kata penghubung kecuali.

d. Konsesif dengan memakai kata penghubung walaupun atau meskipun.

e. Tujuan dengan memakai kata penghubung agar atau supaya.

Kohesi dapat pula ditandai oleh pengulangan kata atau frasa. Kohesi sering pula diciptakan dengan memakai kata yang maknanya sama sekali berbeda dengan makna kata yang diacunya. Akan tetapi , yang penting dalam hal ini ialah bahwa kata yang digantikan dan kata pengganti menunjuk ke referen yang sama. Dengan kata lain, kedua kata itu mempunyai ko-referensi.

Kalimat yang tidak mengandung unsur yang lengkap tidak selalu berarti kohesif dan koheren. Dalam berbahasa, orang bahkan cenderung berbuat dengan efisien, yakni dengan mempergunakan kata yang sedikit dapat disampaikan maksudnya secara lengkap. Untuk mencapai keefisienan itu, orang sering meniadakan unsur-unsur dalam kalimat yang merupakan pengulangan.

Kohesi dalam wacana tidak hanya ditentukan oleh adanya koreferensi, tetapi juga oleh adanya hubungan leksikal. Hubungan antara kata meubel dan kata kursi, misalnya ialah hubungan hiponimi. Kursi (meja, lemari, dan beberapa yang lain) merupakan hiponim, yakni kata yang maknanya dipayungi oleh kata meubel.

Sejajar dengan hubungan hiponimi, hubungan “bagian-keutuhan” dipakai pula untuk menunjukkan kohesi dan koherensi sekaligus. Kemudi ialah bagian mobil (atau kapal, dan sebagainya), yang merupakan keutuhan. Hubungan bagian-keutuhan itu dipakai dalam wacana penyapa maupun pesapa segera menghubungkan utuhan itu sebagai referen bagian sehingga terciptalah koherensi.

Seperti telah disiratkan disana-sini, kohesi bentuk lahir tidak hanya menyatakan kohesi belaka, melainkan yang penting ialah bahwa kohesi (yang baik) menyiratkan koherensi, yaitu hubungan semantik yang mendasari wacana itu. Bahwa koherensi dan bukan semata-semata kohesila yang penting diberikan contohnya pada kalimat wacana berikut ini. Pasangan seperti (1) tidak menunjukkan kohesi sama sekali, tetapi karena perangkat itu koheren, terbentuklah wacana yang apik.

(1) Arsyad : Ada telepon, Ma!

Istri Arsyad : Aku Sedang mandi!

Arsyad, yang asik membaca koran, mendengar telepon berdering, dan meminta istrinya menjawabnya. Akan tetapi, rupanya istrinya sedang mandi dan tidak dapat melaksanakan permintaan suaminya itu. Memang yang diucapkan oleh istrinya hanyalah alasan mengapa ia tidak dapat melakukan permintaan suami.

Dalam bahasa Indonesia ada kata tertentu seperti dia, tetapi, meskipun, waktu itu yang dipakai untuk menjadikan wacana itu kohesif sehingga dapat tercapai koherensi.


Trimakasih sudah mampir di blog kami semoga bermanfaat Trimakasih .....

Monday, August 5, 2019

Kalimat Efektif

Kalimat Efektif

Kalimat yang benar dan jelas akan dengan mudah dipahami orang lain secara tepat. Kalimat yang demikian disebut kalimat efektif. Sebuah kalimat efektif haruslah memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang terdapat pada pikiran penulis atau pembicara. Hal ini berarti bahwa kalimat efektif haruslah disusun secara sadar untuk mencapai daya informasi yang diinginkan penulis terhadap pembacanya, bila hal ini tercapai diharapkan pembaca akan tertarik kepada apa yang dibicarakan dan tergerak hatinya oleh apa yang disampaikan itu.[1]

Agar kalimat yang ditulis dapat memberi informasi kepada pembaca secara tepat seperti yang diharapkan oleh penulis, perlu diperhatikan beberapa hal yang merupakan ciri-ciri kalimat efektif yaitu :

1. Kesepadanan dan kesatuan.

2. Kesejajaran bentuk.

3. Penekanan.

4. Kehematan dalam mempergunakan kata.

5. Kevariasian dalam struktur kalimat.

1. Kesepadanan dan Kesatuan.

Syarat pertama bagi kalimat efektif mempunyai struktur yang baik. Artinya kalimat itu harus memiliki unsur-unsur subjek, predikat, objek, keterangan, dan pelengkap, melahirkan keterpaduan arti yang merupakan ciri keutuhan kalimat.

Misalnya anda ingin mengatakan:

(1) Ibu menata ruang tamu tadi pagi, kalimat ini jelas maknanya. Hubungan antaraunsur yaitu subjek (ibu) dengan predikat (menata), dan antara predikat dengan objek (ruang tamu) beserta keterangan (tadi pagi), merupakan kesatuan bentuk yang membentuk kepaduan makna.

Akan menjadi lain jika kata-kata itu diubah susunannya menjadi :

(2) Menata kemarin diruang tamu.

(3) Ruang tamu ibu kemarin menata.

(4) Menata ibu kemarin ruang tamu.

(5) Ruang tamu ibu menata kemarin.

Kalimat-kalimat di atas maknanya menjadi kabur karena fungsi kata-katanya tidak jelas. Unsur subjek, predikat beserta pelengkapnya tidak jelas sehingga kesatuan bentuk dan keutuhan makna tidak tercapai. Dari uraian tadi dapatlah disimpulkan bahwa harus ada keseimbangan antara pikiran atau gagasan dengan struktur bahasa yang dipergunakan. Kesepadanan kalimat diperlihatkan oleh kemampuan struktur bahasa dalam mendukung gagasan atau konsep yang merupakan kepaduan pikiran.

Pada umumnya dalam sebuah kalimat terdapat satu ide atau gagasan yang hendak disampaikan serta komentar atau penjelasan mengenai ide tersebut. Kedua hal itu perlu ditata dalam kalimat secara cermat agar informasi dan maksud penulis mencapai sasarannya.

2. Kesejajaran (Paralelisme)

Yang dimaksud dengan kesejajaran (paralelisme) dalam kalimat ialah penggunaan bentuk-bentuk bahasa yang sama atau konstruksi bahasa yang sama yang dipakai dalam susunan serial. Jika sebuah gagasan (ide) dalam suatu kalimat dinyatakan dengan frase (kelompok kata), maka gagasan-gagasan lain yang sederajat harus dinyatakan dengan frase. Jika sebuah gagasan dalam suatu kalimat



dinyatakan dengan kata benda (misalnya bentuk pe-an, ke-an), maka gagasan lain yang sederajat harus dengan kata benda juga. Demikian juga halnya bila sebuah gagasan dalam suatu kalimat dinyatakan dengan kata kerja (misalnya bentuk me-kan, di-kan) maka gagasan lainnya yang sederajat harus dinyatakan dengan jenis kata yang sama. Kesejajaran (paralelisme) akan membantu memberi kejelasan kalimat secara keseluruhan.

Perhatikan contoh berikut,

(1) Penyakit alzheimer alias pikun adalah satu segi usia tua yang paling mengerikan dan berbahaya, sebab pencegahan dan cara pengobatannya tak ada yang tahu.

Dalam kalimat diatas gagasan yang sederajat ialah kata yang mengerikan dengan berbahaya dan kata pencegahan dengan cara pengobatannya. Oleh sebab itu, bentuk yang dipakai untuk kata-kata yang sederajat dalam kalimat diatas harus sama (paralel) sehingga kalimat itu kita tata kembali menjadi kalimat dibawah ini.

(2) Penyakit alzheimer alias pikun adalah satu segi usia tua yang paling mengerikan dan membahayakan, sebab pencegahan dan pengobatannya tak ada yang tahu.

Agar lebih jelas perhatikan contoh berikut ini,

(3) Setelah dipatenkan, diproduksikan, dan dipasarkan, masih ada lagi sumber pengacauan yaitu berupa peniruan, yang langsung atau tidak langsung.

(4) Seorang teknolog bertugas memecahkan suatu masalah dengan cara tertentu dan membuat masyarakat mau memilih dan memakai cara pemecahan yang dibuatnya.

Pada kalimat (3) gagasan yang sederajat dinyatakan dengan bentuk paralel di-kan, sedangkan pada kalimat (4) gagasan yang sederajat dinyatakan dengan bentuk kata kerja me-kan.

Dari contoh-contoh dan penjelasan diatas dapat dilihat bahwa kesejajaran dalam kalimat atau penggunaan bentuk-bentuk yang sama untuk menyatakan gagasan-gagasan yang sederajat yang terdapat dalam suatu kalimat akan mendukung keefektifan yang dibuat.

3. Penekanan

Setiap kalimat memiliki sebuah gagasan (ide) pokok. Inti pikiran ini biasanya ingin ditekankan atau ditonjolkan oleh penulis atau pembicara. Seorang pembicara biasanya akan memberi penekanan pada bagian kalimat dengan memperlambat ucapan, meninggikan suara, dan sebagainya pada bagian kalimat tadi. Dalam penulisan ada berbagai cara untuk memberi penekanan dalam kalimat. Cara-cara ini akan kita bicarakan satu per satu.

a. Posisi dalam Kalimat

Untuk memberi penekanan pada bagian tertentu sebuah kalimat, penulis dapat mengemukakan bagian itu pada bagian depan kalimat. Cara ini disebut juga pengutamaan bagian kalimat.

b. Urutan yang Logis

Sebuah kalimat biasanya memberikan suatu kejadian atau peristiwa. Kejadian atau peristiwa yang berurutan hendaknya diperhatikan agar urutannya tergambar dengan logis. Urutan yang logis dapat disusun secara kronologis, dengan penataan urutan yang makinlama main penting atau dengan menggambarkan suatu proses.

c. Pengulangan Kata

Pengulangan kata dalam sebuah kalimat kadang-kadang diperlukan dengan maksudmemberi penegasan pada bagian ujaran yang dianggap penting. Pengulangan kata yangdemikian dianggap dapat membuat maksud kalimat menjadi jelas.



4. Kehematan

Unsur penting lain yang perlu diperhatikan dalam pembentukan kalimat efektif ialah kehematan. Kehematan dalam kalimat efektif merupakan kehematan dalam pemakaian kata, frase atau bentuk lainnya yang dianggap tidak diperlukan. Kehematan itu menyangkut soal gramatikal dan makna kata. Kehematan tidak berarti bahwa kata yang diperlukan atau yang menambah kejelasan makna kalimat boleh dihilangkan. Unsur-unsur penghematan apa saja yang harus diperhatikan akan dibicarakan satu per satu.

a. Pengulangan Subjek Kalimat

Penulis kadang-kadang tanpa sadar sering mengulang subjek dalam satu kalimat. Pengulangan ini tidak membuat kalimat itu menjadi lebih jelas. Oleh karena itu, pengulangan bagian kalimat yang demikian tidak diperlukan.

b. Hiponimi

Dalam bahasa ada kata yang merupakan bawahan makna kata atau ungkapan yang lebih tinggi. Di dalam makna kata tersebut terkandung makna dasar kelompok kelompok makna kata yang bersangkutan. Kata merahsudah mengandung makna kelompok warna.Kata Desembersudah bermakna bulan.

5. Kevariasian

Seseorang akan dapat menulis dengan baik bila dia juga seorang pembaca yang baik. Akan tetapi pembaca yang baik tidak berarti dia juga penulis yang baik. Seorang penulis harus menyadari bahwa tulisan yang dibuatnya akan dibaca orang lain. Membaca bertujuan agar pembaca mendapat sesuatu dari bacaannya. Ini berarti bahwa pembaca harus memahami apa yang dimaksud memberi sesuatu pengetahuan atau pengalaman kepada pembaca juga tidak ingin membuat pembaca menadi letih karena membaca. Oleh sebab itu seorang penulis harus

berusaha menghindarkan pembaca dari keletihan yang pada akhirnya akan menimbulkan kebosanan. Penulis harus berusaha agar membaca menjadi pekerjaan yang menyenangkan.

Sebuah bacaan atau tulisan yang baik merupakan suatu komposisi yang dapat memikat dan mengikat pembacanya untuk terus membaca sampai selesai. Agar dapat membuat pembaca terpikat tidaklah dapat dilakukan begitu saja. Hal ini memerlukan pengetahuan tentang bagaimana seharusnya menulis. Menulis memerlukan ketekunan, latihan, dan pengalaman.

a. Panjang-pendek Kalimat

Kalimat pendek tidak selalu mencerminkan kalimat yang baik atau efektif.
Sebaliknya kalimat yang panjang tidak selalu rumit dan tidak efektif. Di dalam komposisikeduanya bisa bekerja sama untuk menghindari kejemuan atau suasana monoton pada waktumembaca suatu tulisan. Akan menjadi tidak menyenangkan apabila membaca karangan yang terdiri dari kalimat yang seluruhnya pendek-pendek atau sebaliknya seluruhkalimatnya panjang-panjang

b. Jenis Kalimat

Variasi kalimat dapat juga dilakukan melalui berbagai jenis kalimat. Di dalam bahasa Indonesia ada 3 macam jenis kalimat. Ketiga macam jenis kalimat ini adalah kalimat berita, kalimat tanya dan kalimat perintah atau kalimat pinta.Biasanya di dalam menulis orang selalu menyatakannya dalam ujud kalimat berita. Hal ini wajar karena kalimat berita berfungsi untuk memberi tahu tentang sesuatu. Dengan demikian semua yang bersifat memberi tahu dinyatakan dengan kalimat berita. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa dalam rangka memberi informasi kalimat berita. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa dalam rangka memberi informasi kalimat perintah atau kalimat tanya tidak dipergunakan. Justru kalimat tanya kadang-kadang dapat menyegarkan sebuah paragraf.

c. Kalimat Langsung dan Tidak Langsung

Dengan kalimat langsung dapat dibangun variasi kalimat. Kadang-kadang pendapat atau pikiran seseorang akan terasa lebih jelas dan hidup bila dinyatakan dalam bentuk kalimat langsung daripada kalimat tidak langsung.


Terimakasih telah mampir diblog kami semoga apa yang saya berikan dapat bermanfaat........

Sunday, August 4, 2019

Pengertian Kata Baku Dan Tidak Baku

Pengertian Kata Baku Dan Tidak Baku

Kata baku adalah kata yang sesuai dengan ejaan kaidah Bahasa Indonesia. Kata baku sering kita gunakan saat percakapan resmi, misalnya pidato atau saat berbicara dengan orang yang lebih dihormati. Sedangkan kata tidak baku adalah kata yang tidak sesuai dengan ejaan kaidah bahasa Indonesia atau yang biasa kita gunakan untuk berkomunikasi dengan teman-teman sehari-sehari.

Kaidah bahasa Indonesia ini lebih dikenal sebagai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD). Selain pedoman EYD, kamus Bahasa Indonesia juga menjadi salah satu rujukan dalam penentuan baku atau tidaknya suatu kata.

a.Fungsi Kata Baku dan Tidak Baku
Fungsi Kata Baku :

1. Pemersatu

Pemakaian kata baku sesuai EYD dapat menjadi pemersatu dari beragam suku, etnis, atau kelompok yang beranekaragam di Indonesia. Kekhasan dialek bahasa pada masing-masing daerah dapat dipersatukan dengan bahasa baku sehingga menjadi satu kesatuan, yakni Bahasa Indonesia.

2. Pembeda

Penggunaan bahasa baku menjadi pembeda dari bahasa yang lain. Maka, penerapan bahasa baku atau Bahasa Indonesia yang benar dapat memperkuat rasa nasionalisme masyarakat Indonesia.

3. Pemberi Wibawa

Penggunaan kata baku dalam bahasa Indonesia dapat memperlihatkan kewibawaan masyarakat Indonesia itu sendiri. Masyarakat yang bertutur kata dengan baik dan benar akan memperoleh wibawa dan kehormatan di mata orang lain. Dan pada akhirnya dapat membuat orang lain kagum atas bahasa Indonesia.

4. Kerangka Acuan

Kaidah dalam penggunaan kata baku menjadi tolak ukur tentang benar atau tidaknya pemakaian dan penerapan bahasa seseorang.

Fungsi Kata Tidak Baku :

Kata tidak baku berfungsi dalam menciptakan kenyamanan, keakraban, dan suasana santai ketika bercengkerama atau berkomunikasi dengan keluarga dan teman.

b. Ciri-Ciri Kata Baku dan Tidak Baku

Ciri-Ciri Kata Baku :

  1. Kata baku tidak dapat berubah setiap saat
  2. Tidak terpengaruh bahasa daerah
  3. Bukan bahasa percakapan sehari-hari
  4. Tidak terpengaruh bahasa asing
  5. Penggunaan kata baku sesuai dengan konteks di dalam kalimat
  6. Kata baku tidak mempunyai arti yang rancu
  7. Kata baku tidak mengandung arti pleonasme (lebih dari apa yang diperlukan)

Ciri-Ciri Kata Tidak Baku :

  1. Kata tidak baku dapat terpengaruh bahasa daerah atau bahasa asing
  2. Kata tidak baku dapat terpengaruh oleh perkembangan zaman
  3. Kata tidak baku digunakan pada percakapan santai
  4. Kata tidak baku dapat dibuat oleh siapa saja sesuai keinginannya

c. Contoh Kata Baku dan Tidak Baku

No. Kata Baku Kata Tidak Baku

1. Abjad Abjat
2. Advokat Adpokat
3. Kategori Katagori
4. Konferensi Konperensi
5. Konkret Konkrit
6. Kiai Kyai
7. Praktik Praktek
8. Provinsi Propinsi
9. Risiko Resiko
10. Rezeki Rejeki
11. Izin Ijin
12. Sekretaris Sekertaris
13. Sistem Sistim
14. Zaman Jaman
15. Zona Zone

Sinonim, Antonim, Homonim.

a. Sinonim

Sinonim adalah suatu kata yang memiliki bentuk yang berbeda namun memiliki arti atau pengertian yang sama atau mirip. Sinomin bisa disebut juga dengan persamaan kata atau padanan kata.

Contoh 

a.Sinonim :
- binatang = fauna
- bohong = dusta
- haus = dahaga
- pakaian = baju
- bertemu = berjumpa

b. Antonim

Antonim adalah suatu kata yang artinya berlawanan satu sama lain. Antonim disebut juga dengan lawan kata.

Contoh Antonim :

- keras x lembek
- naik x turun
- kaya x miskin
- surga x neraka
- laki-laki x perempuan
- atas x bawah

c. Homonim
Homonim adalah suatu kata yang memiliki makna yang berbeda tetapi lafal atau ejaan sama. Jika lafalnya sama disebut homograf, namun jika yang sama adalah ejaannya maka disebut homofon.

v Contoh Homograf :

- Amplop

+ Untuk mengirim surat untuk bapak presiden kita harus menggunakan amplop (amplop = amplop surat biasa)

+ Agar bisa diterima menjadi pns ia memberi amplop kepada para pejabat (amplop = sogokan atau uang pelicin)

- Bisa

+ Bu kadir bisa memainkan gitar dengan kakinya (bisa = mampu)

+ Bisa ular itu ditampung ke dalam bejana untuk diteliti (bisa = racun)

v Contoh Homofon :

- Masa dengan Massa

+ Guci itu adalah peninggalan masa kerajaan kutai (masa = waktu)

+ Kasus tabrakan yang menghebohkan itu dimuat di media massa (massa = masyarakat umum)

Tambahan :

- Anonim adalah tidak memiliki nama atau tidak diberikan nama.


Terimakasih sudah mampir di channel kami semoga bermanfaat......

Penulisan Unsur Serapan

Penulisan Unsur Serapan

Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari pelbagai bahasa, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing, seperti Sansekerta, Arab, Portugis, Belanda, China, dan Inggris. Berdasarkan taraf integrasinya, unsur serapan dalam bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi dua kelompok besar. Pertama, unsur asing yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti reshuffle, shuttle cock, de I’homme par I’homme. Unsur-unsur itu dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi cara pengucapan dan penulisannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur asing yang penulisan dan pengucapannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.[1]

Unsur serapan yang sudah lazim dieja sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia tidak perlu lagi diubah.
Misalnya: bengkel, kabar, nalar, paham, perlu, sirsak.

Sekalipun dalam ejaan yang disempurnakan huruf q dan x diterima sebagai bagian abjad bahasa Indonesia, unsur yang mengandung kedua huruf itu di indonesiakan mennurut kaidah yang dipaparkan di atas. Kedua huruf itu dipergunakan dalam penggunaan tertentu saja, seperti dalam pembedaan nama dan istilah khusus.[2]

A. Konsep Ilmu Pengetahuan dan Peristilahannya

Upaya kecendekiaan ilmuwan (scientist) dan pandit (sholar) telah dan terus menghasilkan konsep ilmiah, yang pengungkapannya dituangkan dalam perangkat peristilahan. Ada istilah yang sudah mapan dan ada pula istilah yang masih perlu diciptakan. Konsep ilmiah yang sudah dihasilkan ilmuwan dan pandit Indonesia dengan sendi;rinya mempunyai istilah yang mapan. Akan tetapi, sebagian besar konsep ilmu pengetahuan modern yang dipelajari, digunakan, dan dikembangkan oleh pelaku ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia datang dari luar negeri dan sudah dilambangkan dengan istilah bahasa asing. Disamping itu, ada kemungkinan bahwa kegiatan ilmuwan dan pandit Indonesia akan mencetuskan konsep ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang sama sekali baru sehingga akan diperlukan penciptaan istilah baru.

B. Bahan Baku Istilah Indonesia
Tidak ada satu bahasa pun yang sudah memiliki kosakata yang lengkap dan tidak
memerlukan ungkapanuntuk gagasan, temuan, atau rekacipta yang baru. Bahasa Inggris
yang kini dianggap bahasa internasional utama, misalnya, pernah menyerap kata dan
ungkapan dari bahasa Yunani, Latin, Prancis, dan bahasa lain yang jumlahnya hampir tiga
perlima dari seluruh kosakatanya. Sejalan dengan itu, bahan istilah Indonesia diambil dari
berbagai sumber, terutama dari tiga golongan bahasa yang penting, yakni (1) bahasa
Indonesia, termasuk unsur serapannya, dan bahasa melayu, (2) bahasa Nusantara yang
serumpun, termasuk bahasa JawaKuno, dan (3) bahasa asing, seperti bahasa Inggris dan
bahasa Arab.

C. Pemantapan Istilah Nusantara

Istilah yang mengungkapkan konsep hasil galian ilmuwan dan pandit Indonesia, seperti bhineka Tunggal Ika, batik, ganjar, sawer, gunungan, dan pamor, telah lama diterima secara luas sehingga dapat dimantapkan dan hasilnya dikodifikasi.

D. Pemadanan Istilah

Pemadanan istilah asing ke dalam bahasa Indonesia, dan jika perlu ke salah satu bahasa serumpun, dilakukan lewat penerjemahan, penyerapan, atau gabungan penerjemahan dan penyerapan. Demi keseragaman, sumber rujukan yang diutamakan ialah istilah Inggris yang pemakaiannya bersifat internasional karena sudah dilazimkan oleh para ahli dalam bidangnya. Penulisan istilah serapan itu dilakukan dengan atau tanpa penyesuaian ejaannya berdasarkan kaidah fonotaktik, yakni hubungan urutan bunyi yang diizinkan dalam bahasa Indonesia.

1. Penerjemahan
Istilah Indonesia dapat dibentuk lewat penerjemahan berdasarkan kesesuaian makna, tetapi bentuknya tidak sepadan.

Misalnya:
Supermarket pasar swalayan
Merger gabungan usaha

Penerjemahan dapat pula dilakukan berdasarkan kesesuaian bentuk dan makna.
Misalnya:
Bonded zone kawasan berikat
Skycraper pencakar langit

Penerjemahan istilah asing memiliki beberapa keuntungan. Selain memperkaya kosakata Indonesia dengan sinonim, istilah terjemahan juga meningkatkan daya ungkap bahasa Indonesia. Jika timbul kesulitan dalam penyerapan istilah asing yang bercorak Anglo-Sakson karena perbedaan antara lafal dan ejaannya, penerjamahan merupakan jalan keluar terbaik. Dalam pembentukan istilah lewat penerjemahan perlu diperhatikan pedoman berikut.

a. Penerjemahan tidak harus berasas satu kata diterjemahkan dengan satu kata.
Misalnya:
Psychologist ahli psikologi

Medical practitioner dokter

b. Istilah asing dalam bentuk positif diterjemahkan ke dalam istilah Indonesia bentuk positif,
sedangkan istilah dalam bentuk negatif diterjemahkan ke dalam istilah Indonesia bentuk
negatif pula.

Misalnya:
Bound form bentuk terikat (bukan bentuk tak bebas)
Illiterat niraksara
Inorganic takorganik

c. Kelas kata istilah asing dalam penerjemahan sedapat-dapatnya dipertahankan pada istilah
terjemahannya.

Misalnya:
Merger (nomina) gabung usaha (nomina)
Transparent (adjektiva) bening (adjektiva)

(to) filter(verba) menapis (verba)

d. Dalam penerjemahan istilah asing dengan bentuk plural, pemarkah kejamakannya
ditanggalkan pada istilah Indonesia.

Misalnya:
Alumni lulusan
Master of ceremonies pengatur acara

2. Penyerapan
Penyerapan istilah asing untuk menjadi istilah Indonesia dilakukan berdasarkan hal-hal
berikut:

a. Istilah asing yang akan diserap meningkatkan ketersalinan bahasa asing dan bahasa
Indonesia secara timbal balik (intertranslatability) mengingat keperluan masa depan.

b. Istilah asing yang akan diserap mempermudah pemahaman teks asing oleh pembaca
Indonesia karena dikenal lebih dahulu.

c. Istilah asing yang akan diserap lebih ringkas jika dibandingkan dengan terjemahan
Indonesianya.

d. Istilah asing yang akan diserap mempermudah kesepakatan antarpakar jika padanan
terjemahannya terlalu banyak sinonimnya.

e. Istilah asing yang akan diserap lebih cocok dan tepat karena tidak mengandung
konotasi buruk.

Proses penyerapan istilah asing, dengan mengutamakan bentuk visualnya, dilakukan dengan cara yang berikut.

a. Penyerapan dengan penyesuaian ejaan dan lafal

Misalnya:
Camera kamera
Microphone mikrofon
System sistem

b. Penyerapan dengan penyesuaian ejaan tanpa penyesuaian lafal

Misalnya:
Design desain
File fail
Science sains

c. Penyerapan tanpa penyesuaian ejaan, tetapi dengan penyesuaian lafal

Misalnya:
Bias bias
File fail
Science sains

d. Penyerapan tanpa penyesuaian ejaan dan lafal:

(1) Penyerapan istilah asing tanpa penyesuaian ejaan dan lafal dilakukan jika ejaan
dan lafal dilakukan jika ejaan dan lafal istilah asing itu tidak berubah dalam
banyak bahasa modern, istilah itu dicetak dengan huruf miring.

Misalnya:
Allegro moderato divide et impera
Aufklarung dulce et utile
Status quo in vitro
Esprit de corps vis-a`-vis

(2) Penyerapan istilah tanpa penyesuaian ejaan dan lafal dilakukan jika istilah itu juga
dipakai secara luas dalam kosakata umum, istilah itu tidak ditulis dengan huruf
miring (dicetak dengan huruf tegak).[3]

Misalnya:
Golf golf
Internet internet
Lift lift
Orbit orbit
Sona(sound navigation dan ranging)suara


Penyerapan Afiks dan Bentuk Terikat Istilah Asing

a. Penyesuaian Ejaan Prefiks dan bentuk terikat

Prefiks asing yang bersumber pada bahasa Indo-Eropa dapat dipertimbangkan pemakaiannya didalam peristilahan Indonesia setelah disesuaikan ejaannya. Prefiks asing itu, antara lain, ialah sebagai berikut.

a-, ab-, abs- (‘dari’, ‘menyimpang dari’, ‘menjauhkan dari’) tetap a-, ab-, abs-

amoral amoral
abnormal abnormal
abstract abstrak

a-, an-‘tidak, bukan, tanpa’ tetap a-, an-

anemis anemia
aphasia afasia
aneurysm ke aneurisme

ad-, ac- ‘ke’, ‘berdekatan dengan’, ‘melekat pada’, menjadi ad-, ak-

adhesion adhesi
acculturation akulturasi

am-, amb- ‘sekeliling’, ‘keduanya’ tetap am-, amb-

ambivalence ambivalendi
amputation amputasi

ana-, an-‘ke atas’, ‘ke belakang’, ‘terbalik’ tetap ana-, an-

anabolism anabolisme
anatropus anatrop

ante- ‘sebelum’, ‘depan’ tetap ante-

antediluvian antediluvian
anterior anterior

anti-, ant-‘bertentangan dengan’ tetap anti-, ant-

anticatalyst antikatalis
anticlinal antiklinal
antacid antacid

apo-‘lepas, terpisah’, ‘berhubungan dengan’ tetap apo-

apochromatic apokromatik
apomorphine apomorfin

aut-, auto-‘sendiri’, ‘bertindak sendiri’ tetap aut-, auto-

autarky autarki
autostrada autostrada

bi-‘pada kedua sisi’, ‘dua’ tetap bi-

biconvex bikoneks
bisexual biseksual
cata-‘bawah’, ‘sesuai dengan’ menjadi kata-
cataclysm kataklisme
catalyst katalis

co-, com-, con- ‘dengan’, ‘bersama-sama’, berhubungan dengan’ menjadi ko-, kom, kon

coordination koordinasi
commission komisi
concentrate konsenstrat
contra- ‘menentang’, ‘berlawanan’ menjadi kontra-
contradiction kontradiksi
contraindication kontraindikasi
de- ‘memindahkan’, ‘mengurangi’ tetap de-

dichloride diklorida
dichromatic dikromatik
dia- ‘melalui’, ‘melintas’ tetap dia-

diagonal diagonal
diapositive diapositif
dis- ‘ketiadaan’, ‘tidak’ tetap dis-

disequilibrium disekuilibrium
disharmony disharmoni
eco- ‘lingkungan’ menjadi eko-

ecology ekologi
ecospecies ekospesies
em-,en- ‘dalam’, ‘di dalam’ tetap em-, en-

empathy empati
encenphalitis ensenfalitis
endo- ‘di dalam’ tetap endo-

endoskeleton endoskeleton
endothermal endoternal
epi- ‘di atas’, ‘sesudah’ tetap epi-

epigone epigon
epiphyte epifit
ex- ‘sebelah luar’ menjadi eks-

exclave eksklave
exclusive eksklusif
exo-, ex- ‘sebelah luar’, ‘mengeluarkan’ menjadu ekso-, eks-

exoergic eksoergik
exogamy eksogami
extra- ‘diluar’ menjadi ekstra-

extradition ekstradisi
extraterrestrial ekstraterestrial
hemi ‘separuh’, ‘setengah’ tetap hemi-

hemihedral hemihedral
hemisphere hemisfer
hemo- ‘darah’ tetap hemo-

hemoglobin hemoglobin
hemolysis hemolisis

hepta- ‘tujuh’, ‘mengandung tujuh...’ tetap hepta-

heptameter heptameter
heptarchy heptarki

b. Penyesuaian Ejaan Sufiks

Sufiks asing dalam bahasa Indonesia diserap sebagai bagian kata berafiks yang utuh. Kata seperti standardisasi, implementasi, dan objektif diserap secara utuh di samping kata
standar, implemen, dan objek. Berikut kata bersufiks tersebut:

-aat (Belanda) menjadi –at

Advocaat advokat
-able, -ble (inggris) menjadi –bel

Variable variabel

-ac (inggris) menjadi –ak

Maniac maniak

-age (Inggris) menjadi –ase

Sabotase sabotase
-air (Belanda), -ary (Inggris) menjadi –er

Complementair, complementary komplementer
-al (Inggris) menjadi –al

Credential kredensial
-ance, -ence (Inggris) menjadi –ans, -ens

Ambulance ambulans
-ancy, -ency (inggris) menjadi –ansi, -ensi

Effeciency efisiensi
-ant (Belanda, Inggris) menjadi –an

Accountant akuntan
-ar (Inggris) menjadi –ar, -er

Curricular kurikuler
-archie (Belanda), -archy (Inggris) menjadi –arki

Anarchie, anarchy anarki

Gabungan Penerjemahan dan penyerapan
Istilah bahasa Indonesia dapat dibentuk dengan menerjemahkan dan menyerap istilah asing sekaligus.

Misalnya:
Bound Morphene morfem terikat
Clay colloid koloid lempung
Subdivision subbagian

E. Perekaciptaan Istilah

Kegiatan ilmuwan, budayawan dan seniman yang bergerak di baris terdepan ilmu, teknologi, dan seni dapat direkacipta sesuai dengan lingkungan dan corak bidang kegiatannya.
Misalnya, rekacipta istilah fondasi cakar ayam, penyangga, sosorobahu, plasma inti rakyat, dan terbang pilih Indonesia telah masuk ke dalam khazanah peristilahan.

F. Pembakuan dan kodifikasi Istilah

Istilah yang diseleksi lewat pemantapan, penerjemahan, penyerapan, dan perekaciptaan dibakukan lewat kodifikasi yang mengusahakan keteraturan bentuk seturut kaidah dan adat pemakaian bahasa. Kodifikasi itu tercapai dengan tersusunnya sistem ejaan, buku, tata bahasa, dan kamus yang merekam menetapkan bentuk bakunya.

Terimakasih semoga informasi mengenai unsur serapan ini bermanfaat bagi teman-teman...

Saturday, August 3, 2019

Tanda Baca Dan Penggunaannya

Tanda Baca Dan Penggunaannya

Dalam berbahasa Indonesia, khususnya bahasa tulis, satu hal yang sering diabaikan adalah pemakaian tanda baca. Padahal, dalam bahasa tulis, peran tanda baca adalah sangat penting. Keberadaan tanda baca dalam sebuah tulisan akan sangat membantu pembaca memahami sebuah tulisan.

Tanda baca dalam ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan mencakup pengaturan (a)tanda titik (.); (b) tanda koma (,); (c) tanda titik koma (;); (d) tanda titik; (e) tanda hubung (-); (f) tanda pisah (-); (g) tanda tanya (?); (h) tanda seru (!); (i) tanda elipsis (...); (j) tanda petik (“ “); (k) tanda petik tunggal (‘ ‘); (l) tanda kurung (( )); (m) tanda kurung siku; (n) tanda garis miring (/); (o) tanda penyingkat atau apostrof (‘).

A. Tanda Titik 

1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. Tanda titik tidak digunakan pada akhir kalimat yang unsur akhirnya sudah bertanda titik.

Misalnya : Buku itu disusun oleh Drs. Sutarso, M.A.

2. Tanda titik dipakai dibelakang angka atau huruf dalam suatu bagian, ikhtisar, atau daftar. Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar jika angka huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka dan huruf.

3. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.

4. Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di akhir nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan tempat terbit.

5. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang menujukkan jumlah.

6. Tanda titik dipakai pada penulisan singkatan.

B. Tanda koma (,)

1. Tanda koma dipakai diantara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan. Misalnya: Saya membeli kertas, pena, dan tinta.

2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului dengan kata seperti tetapi, melainkan, sedangkan, dan kecuali.

3. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.

4. Tanda koma dipakai dibelakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun begitu.

5. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seru, seperti o, ya, wah, aduh, dan kasihan, atau kata-kata yang digunakan sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Mas dari kata lain yang terdapat di dalam kalimat.

6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.

7. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringnya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau seru.

8. Tanda koma dipakai di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian alamat, (c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.

9. Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

10. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki ag

11. Tanda koma dipakai diantara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.

12. Tanda koma dipakai di muka angka desimal atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.

13. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.

Misalnya: Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali. Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang laki-laki yang makan sirih.

14. Tanda koma dipakai untuk menghindari salah baca/ salah pengertian di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat

Misalnya: Dalam pengembangan bahasa, kita dapat memanfaatkan bahasa-bahasa di kawasan
nusantara ini. Dibandingkan dengan: Kita dapat memanfaatkan bahasa-bahasa di kawasan nusantara ini
dalam pengembangan kosakata.

C. Tanda Titik Koma (;)

1. Tanda titik koma dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat
yang setara di dalam kalimat majemuk setara.

2. Tanda titik koma digunakan untuk mengakhiri pernyataan perincian dalam kalimat yang
berupa frasa atau kelompok kata. Dalam hubungan itu, sebelum perincian terakhir tidak
perlu digunakan kata dan.

3. Tanda titik koma digunakan untuk memisahkan 2 kalimat setara atau lebih apabila unsur-
unsur setiap bagian itu dipisah oleh tanda baca dan kata hubung.

D. Tanda Titik Dua (:)

1. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti rangkaian atau
pemerian,tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau pemerian itu merupakan
pelengkap yang mengakhiri pernyataan.

Misalnya : Kita memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari

2. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian

Misalnya :Ketua : Ahmad wijaya
Sekretaris : Khadijah
Bendahara : Aulia

3. Tanda titik dua dapat dipakai dalam naskah drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku
dalam percakapan.

4. Tanda titik dua dipakai di antara (a) jilid atau nomor dan halaman, (b) bab dan ayat dalam
kitab suci, (c) judul dan anak judul suatu karangan, serta (d) nama kota dan penerbit buku
dalam acuan dalam karangan.

E. Tanda Hubung (-)

1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata yang terpisah oleh pergantian baris.

2. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata yang mengikutinya atau akhiran dengan bagian kata yang mendahuluinya pada pergantian baris.

3. Tanda hubung digunakan untuk menyambung bagian-bagian tanggal dan huruf dalam kata yang dieja satu-satu.

4. Tanda hubung digunakan untuk menyambung unsur-unsur kata ulang.

5. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas
(a) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan dan
(b) penghilangan bagian frasa atau kelompok kata.

6. Tanda hubung dipakai untuk merangkai
Se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital.
Ke- dengan angka
Angka dengan –an
Kata atau imbuhan dengan singkatan berhuruf kapital
Kata ganti yang berbentuk imbuhan, dan
Gabungan kata yang merupakan kesatuan.

7. Tanda hubung dipakai untuk merangkai unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing. Misalnya : di-smash, di-mark-up.

F. Tanda Pisah

1. Tanda pisah dipakai untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi
penjelasan di luar bangun utama kalimat.

2. Tanda pisah dipakai untuk menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang
lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.

3. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan, tanggal, atau tempat dengan arti ‘sampai
dengan’atau ‘sampai ke’.

G. Tanda Tanya (?)

1. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.

2. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang
disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.

H. Tanda Seru

Tanda seru dipakai untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun emosi yang kuat.

I. Tanda Elipsis (...)

1. Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.

Misalnya : Kalau begitu ..., marilah kita laksanakan.

2. Tanda elipsis dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.

Tanda elipsis itu didahului dan diikuti dengan spasi, jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimatm perlu dipakai 4 tanda titik : 3 tanda titik untuk menandai penghilangan teks dan 1 tanda titik untuk menandai akhir kalimat, tanda elipsis pada akhir kalimat tidak diikuti dengan spasi.

Bahasa Baku

Istilah bahasa baku atau bahasa standar dapat merujuk kepada bentuk bahasa atau dialek yang menjalani standardisasi dan penggunaannya melampaui batas daerah.

Dalam pengertian yang lain, bahasa baku adalah ragam bahasa yang diterima untuk dipakai dalam situasi resmi. Bahasa baku terutama digunakan sebagai bahasa persatuan dalam masyarakat bahasa yang mempunyai bahasa.

Bahasa baku umumnya ditegakkan melalui kamus (ejaan dan kosakata),tata bahasa, pelafalan, lembaga bahasa, status hukum, serta penggunaan di masyarakat (pemerintah, sekolah, dll).

Di Indonesia, bahasa baku tidak dapat dipakai untuk segala keperluan, tetapi hanya untuk komunikasi resmi, wacana teknis, pembicaraan di depan umum, dan pembicaraan dengan orang yang dihormati. Di luar keempat penggunaan itu, dipakai ragam tak baku.

Terimakasih telah mampir di blog kami semoga bisa membantu teman-teman.....

Pedoman Penulisan Kata

Pedoman Penulisan Kata

Pedoman penulisan kata meliputi 11 hal, yaitu kata dasar; kata turunan; bentuk ulang; gabungan kata; suku kata; kata depan di, ke, dan dari; partikel; singkatan dan akronim; angka dan bilangan; kata ganti ku-, kau-, -mu, dan –nya; serta kata si dan sang.

A. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya:

Buku itu sangat menarik.

Ibu mengharapkan keberhasilanmu

Dia bertemu dengan kawannya di kantor pos

B.Kata Turunan

1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.
Misalnya: berjalan, dipermainkan, gemetar, lukisan, menengok, petani.

2. Imbuhan dirangkaikan dengan tanda hubung jika ditambahkan pada bentuk singkatan atau kata dasar yang bukan bahasa Indonesia.
Misalnya: mem-PHK-kan, di-PTUN-kan, di-upgrade,me-recall.

3. Jika bentuk dasarnya berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
Misalnya: bertepuk tangan, garis bawahi, menganak sungai, sebarluaskan.

4. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya: dilipatgandakan, menggarisbawahi, menyebarkan, penghancurleburan,
pertanggungjawaban.

5. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya: adipati, aerodinamika, antarkota, antibiotik, anumerta, audiogram, awahama, bikarbonat, biokimia, caturtunggal, dasawarsa, dekameter.

Catatan :

1.) Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya huruf kapital, tanda hubung (-) digunakan diantara kedua unsur itu.
Misalnya: non-Indonesia, pan-Afrikanisme, pro-Barat.

2.) Jika kata maha sebagai unsur gabungan merujuk kepada Tuhan yang diikuti oleh kata berimbuhan, gabungan itu ditulis terpisah dan unsur-unsurnya dimulai dengan huruf kapital.

Misalkan: Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
Kita berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Pengampun.

3.) Jika kata maha sebagai unsur gabungan merujuk kepada Tuhan dan diikuti oleh kata dasar, kecuali kata esa, gabungan itu ditulis serangkai.

Misalnya: Tuhan Yang Mahakuasa menentukan arah hidup kita.
Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.

4.) Bentuk-bentuk terikat dari bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti pro, kontra, dan anti, dapat digunakan sebagai bentuk dasar.

Misalnya: Sikap masyarakat yang pro lebih banyak daridapa kontra.
Mereka memperlihatkan sikap anti terhadap kejahatan.

5.) Kata tak sebagai unsur gabungan dalam peristilahan ditulis serangkai dengan bentuk dasar yang mengikutinya, tetapi ditulis terpisah jika diikuti oleh bentuk berimbuhan. Misalnya: taklaik terbang, taktembus cahaya, tak bersuara, tak terpisahkan.


C. Bentuk Ulang

Bentuk ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung di antara unsur-unsurnya. Misalnya: anak-anak, berjalan-jalan, biri-biri, buku-buku, hati-hati.

Catatan:

1.) Bentuk ulang gabungan kata ditulis dengan mengulang unsur pertama saja.

Misalnya: surat kabar = surat-surat kabar
kapal barang = kapal-kapal barang
rak buku = rak-rak buku

2.) Bentuk ulang gabungan kata yang unsur keduanya adjektiva ditulis dengan mengulang unsur pertama atau unsur keduanya dengan makna yang berbeda.

Misalnya: orang besar = orang-orang besar
orang besar-besar
gedung tinggi = gedung-gedung tinggi
gedung tinggi-tinggi

3.) Awalan dan akhiran ditulis serangkai dengan bentuk ulang.

Misalnya: Kekanak-kanakan, perundang-undangan, melambai-lambaikan, dibesar-besarkan.
Catatan: Pemerintah sedang mempersiapkan rancangan undang-undang baru. Kami mengundang orang-orang yang berminat saja.

D. Gabungan kata

1. Unsur-unsur gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk ditulis terpisah.

Misalnya: duta besar, kambing hitam, simpang empat, mata pelajaran, meja tulis.

2. Gabungan kata yang dapat menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan menambahkan tanda hubung di antara unsur-unsurnya untuk menegaskan pertalian unsur yang bersangkutan.

Misalnya: anak-istri Ali, anak istri-Ali
Ibu-bapak kami, ibu bapak-kami

3. Gabungan kata yang dirasakan sudah padu ditulis serangkai.

Misalnya: acapkali, adakalanya, akhirulkalam, alhamdulillah, apalagi, astaghfirullah, bagaimana.


Terimakasih telah mampir di blog kami semoga bermanfaat...