Kalimat Efektif
Kalimat yang benar dan jelas akan dengan mudah dipahami orang lain secara tepat. Kalimat yang demikian disebut kalimat efektif. Sebuah kalimat efektif haruslah memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang terdapat pada pikiran penulis atau pembicara. Hal ini berarti bahwa kalimat efektif haruslah disusun secara sadar untuk mencapai daya informasi yang diinginkan penulis terhadap pembacanya, bila hal ini tercapai diharapkan pembaca akan tertarik kepada apa yang dibicarakan dan tergerak hatinya oleh apa yang disampaikan itu.[1]
Agar kalimat yang ditulis dapat memberi informasi kepada pembaca secara tepat seperti yang diharapkan oleh penulis, perlu diperhatikan beberapa hal yang merupakan ciri-ciri kalimat efektif yaitu :
1. Kesepadanan dan kesatuan.
2. Kesejajaran bentuk.
3. Penekanan.
4. Kehematan dalam mempergunakan kata.
5. Kevariasian dalam struktur kalimat.
1. Kesepadanan dan Kesatuan.
Syarat pertama bagi kalimat efektif mempunyai struktur yang baik. Artinya kalimat itu harus memiliki unsur-unsur subjek, predikat, objek, keterangan, dan pelengkap, melahirkan keterpaduan arti yang merupakan ciri keutuhan kalimat.
Misalnya anda ingin mengatakan:
(1) Ibu menata ruang tamu tadi pagi, kalimat ini jelas maknanya. Hubungan antaraunsur yaitu subjek (ibu) dengan predikat (menata), dan antara predikat dengan objek (ruang tamu) beserta keterangan (tadi pagi), merupakan kesatuan bentuk yang membentuk kepaduan makna.
Akan menjadi lain jika kata-kata itu diubah susunannya menjadi :
(2) Menata kemarin diruang tamu.
(3) Ruang tamu ibu kemarin menata.
(4) Menata ibu kemarin ruang tamu.
(5) Ruang tamu ibu menata kemarin.
Kalimat-kalimat di atas maknanya menjadi kabur karena fungsi kata-katanya tidak jelas. Unsur subjek, predikat beserta pelengkapnya tidak jelas sehingga kesatuan bentuk dan keutuhan makna tidak tercapai. Dari uraian tadi dapatlah disimpulkan bahwa harus ada keseimbangan antara pikiran atau gagasan dengan struktur bahasa yang dipergunakan. Kesepadanan kalimat diperlihatkan oleh kemampuan struktur bahasa dalam mendukung gagasan atau konsep yang merupakan kepaduan pikiran.
Pada umumnya dalam sebuah kalimat terdapat satu ide atau gagasan yang hendak disampaikan serta komentar atau penjelasan mengenai ide tersebut. Kedua hal itu perlu ditata dalam kalimat secara cermat agar informasi dan maksud penulis mencapai sasarannya.
2. Kesejajaran (Paralelisme)
Yang dimaksud dengan kesejajaran (paralelisme) dalam kalimat ialah penggunaan bentuk-bentuk bahasa yang sama atau konstruksi bahasa yang sama yang dipakai dalam susunan serial. Jika sebuah gagasan (ide) dalam suatu kalimat dinyatakan dengan frase (kelompok kata), maka gagasan-gagasan lain yang sederajat harus dinyatakan dengan frase. Jika sebuah gagasan dalam suatu kalimat
dinyatakan dengan kata benda (misalnya bentuk pe-an, ke-an), maka gagasan lain yang sederajat harus dengan kata benda juga. Demikian juga halnya bila sebuah gagasan dalam suatu kalimat dinyatakan dengan kata kerja (misalnya bentuk me-kan, di-kan) maka gagasan lainnya yang sederajat harus dinyatakan dengan jenis kata yang sama. Kesejajaran (paralelisme) akan membantu memberi kejelasan kalimat secara keseluruhan.
Perhatikan contoh berikut,
(1) Penyakit alzheimer alias pikun adalah satu segi usia tua yang paling mengerikan dan berbahaya, sebab pencegahan dan cara pengobatannya tak ada yang tahu.
Dalam kalimat diatas gagasan yang sederajat ialah kata yang mengerikan dengan berbahaya dan kata pencegahan dengan cara pengobatannya. Oleh sebab itu, bentuk yang dipakai untuk kata-kata yang sederajat dalam kalimat diatas harus sama (paralel) sehingga kalimat itu kita tata kembali menjadi kalimat dibawah ini.
(2) Penyakit alzheimer alias pikun adalah satu segi usia tua yang paling mengerikan dan membahayakan, sebab pencegahan dan pengobatannya tak ada yang tahu.
Agar lebih jelas perhatikan contoh berikut ini,
(3) Setelah dipatenkan, diproduksikan, dan dipasarkan, masih ada lagi sumber pengacauan yaitu berupa peniruan, yang langsung atau tidak langsung.
(4) Seorang teknolog bertugas memecahkan suatu masalah dengan cara tertentu dan membuat masyarakat mau memilih dan memakai cara pemecahan yang dibuatnya.
Pada kalimat (3) gagasan yang sederajat dinyatakan dengan bentuk paralel di-kan, sedangkan pada kalimat (4) gagasan yang sederajat dinyatakan dengan bentuk kata kerja me-kan.
Dari contoh-contoh dan penjelasan diatas dapat dilihat bahwa kesejajaran dalam kalimat atau penggunaan bentuk-bentuk yang sama untuk menyatakan gagasan-gagasan yang sederajat yang terdapat dalam suatu kalimat akan mendukung keefektifan yang dibuat.
3. Penekanan
Setiap kalimat memiliki sebuah gagasan (ide) pokok. Inti pikiran ini biasanya ingin ditekankan atau ditonjolkan oleh penulis atau pembicara. Seorang pembicara biasanya akan memberi penekanan pada bagian kalimat dengan memperlambat ucapan, meninggikan suara, dan sebagainya pada bagian kalimat tadi. Dalam penulisan ada berbagai cara untuk memberi penekanan dalam kalimat. Cara-cara ini akan kita bicarakan satu per satu.
a. Posisi dalam Kalimat
Untuk memberi penekanan pada bagian tertentu sebuah kalimat, penulis dapat mengemukakan bagian itu pada bagian depan kalimat. Cara ini disebut juga pengutamaan bagian kalimat.
b. Urutan yang Logis
Sebuah kalimat biasanya memberikan suatu kejadian atau peristiwa. Kejadian atau peristiwa yang berurutan hendaknya diperhatikan agar urutannya tergambar dengan logis. Urutan yang logis dapat disusun secara kronologis, dengan penataan urutan yang makinlama main penting atau dengan menggambarkan suatu proses.
c. Pengulangan Kata
Pengulangan kata dalam sebuah kalimat kadang-kadang diperlukan dengan maksudmemberi penegasan pada bagian ujaran yang dianggap penting. Pengulangan kata yangdemikian dianggap dapat membuat maksud kalimat menjadi jelas.
4. Kehematan
Unsur penting lain yang perlu diperhatikan dalam pembentukan kalimat efektif ialah kehematan. Kehematan dalam kalimat efektif merupakan kehematan dalam pemakaian kata, frase atau bentuk lainnya yang dianggap tidak diperlukan. Kehematan itu menyangkut soal gramatikal dan makna kata. Kehematan tidak berarti bahwa kata yang diperlukan atau yang menambah kejelasan makna kalimat boleh dihilangkan. Unsur-unsur penghematan apa saja yang harus diperhatikan akan dibicarakan satu per satu.
a. Pengulangan Subjek Kalimat
Penulis kadang-kadang tanpa sadar sering mengulang subjek dalam satu kalimat. Pengulangan ini tidak membuat kalimat itu menjadi lebih jelas. Oleh karena itu, pengulangan bagian kalimat yang demikian tidak diperlukan.
b. Hiponimi
Dalam bahasa ada kata yang merupakan bawahan makna kata atau ungkapan yang lebih tinggi. Di dalam makna kata tersebut terkandung makna dasar kelompok kelompok makna kata yang bersangkutan. Kata merahsudah mengandung makna kelompok warna.Kata Desembersudah bermakna bulan.
5. Kevariasian
Seseorang akan dapat menulis dengan baik bila dia juga seorang pembaca yang baik. Akan tetapi pembaca yang baik tidak berarti dia juga penulis yang baik. Seorang penulis harus menyadari bahwa tulisan yang dibuatnya akan dibaca orang lain. Membaca bertujuan agar pembaca mendapat sesuatu dari bacaannya. Ini berarti bahwa pembaca harus memahami apa yang dimaksud memberi sesuatu pengetahuan atau pengalaman kepada pembaca juga tidak ingin membuat pembaca menadi letih karena membaca. Oleh sebab itu seorang penulis harus
berusaha menghindarkan pembaca dari keletihan yang pada akhirnya akan menimbulkan kebosanan. Penulis harus berusaha agar membaca menjadi pekerjaan yang menyenangkan.
Sebuah bacaan atau tulisan yang baik merupakan suatu komposisi yang dapat memikat dan mengikat pembacanya untuk terus membaca sampai selesai. Agar dapat membuat pembaca terpikat tidaklah dapat dilakukan begitu saja. Hal ini memerlukan pengetahuan tentang bagaimana seharusnya menulis. Menulis memerlukan ketekunan, latihan, dan pengalaman.
a. Panjang-pendek Kalimat
Kalimat pendek tidak selalu mencerminkan kalimat yang baik atau efektif.
Sebaliknya kalimat yang panjang tidak selalu rumit dan tidak efektif. Di dalam komposisikeduanya bisa bekerja sama untuk menghindari kejemuan atau suasana monoton pada waktumembaca suatu tulisan. Akan menjadi tidak menyenangkan apabila membaca karangan yang terdiri dari kalimat yang seluruhnya pendek-pendek atau sebaliknya seluruhkalimatnya panjang-panjang
b. Jenis Kalimat
Variasi kalimat dapat juga dilakukan melalui berbagai jenis kalimat. Di dalam bahasa Indonesia ada 3 macam jenis kalimat. Ketiga macam jenis kalimat ini adalah kalimat berita, kalimat tanya dan kalimat perintah atau kalimat pinta.Biasanya di dalam menulis orang selalu menyatakannya dalam ujud kalimat berita. Hal ini wajar karena kalimat berita berfungsi untuk memberi tahu tentang sesuatu. Dengan demikian semua yang bersifat memberi tahu dinyatakan dengan kalimat berita. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa dalam rangka memberi informasi kalimat berita. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa dalam rangka memberi informasi kalimat perintah atau kalimat tanya tidak dipergunakan. Justru kalimat tanya kadang-kadang dapat menyegarkan sebuah paragraf.
c. Kalimat Langsung dan Tidak Langsung
Dengan kalimat langsung dapat dibangun variasi kalimat. Kadang-kadang pendapat atau pikiran seseorang akan terasa lebih jelas dan hidup bila dinyatakan dalam bentuk kalimat langsung daripada kalimat tidak langsung.
Terimakasih telah mampir diblog kami semoga apa yang saya berikan dapat bermanfaat........
Kalimat yang benar dan jelas akan dengan mudah dipahami orang lain secara tepat. Kalimat yang demikian disebut kalimat efektif. Sebuah kalimat efektif haruslah memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang terdapat pada pikiran penulis atau pembicara. Hal ini berarti bahwa kalimat efektif haruslah disusun secara sadar untuk mencapai daya informasi yang diinginkan penulis terhadap pembacanya, bila hal ini tercapai diharapkan pembaca akan tertarik kepada apa yang dibicarakan dan tergerak hatinya oleh apa yang disampaikan itu.[1]
Agar kalimat yang ditulis dapat memberi informasi kepada pembaca secara tepat seperti yang diharapkan oleh penulis, perlu diperhatikan beberapa hal yang merupakan ciri-ciri kalimat efektif yaitu :
1. Kesepadanan dan kesatuan.
2. Kesejajaran bentuk.
3. Penekanan.
4. Kehematan dalam mempergunakan kata.
5. Kevariasian dalam struktur kalimat.
1. Kesepadanan dan Kesatuan.
Syarat pertama bagi kalimat efektif mempunyai struktur yang baik. Artinya kalimat itu harus memiliki unsur-unsur subjek, predikat, objek, keterangan, dan pelengkap, melahirkan keterpaduan arti yang merupakan ciri keutuhan kalimat.
Misalnya anda ingin mengatakan:
(1) Ibu menata ruang tamu tadi pagi, kalimat ini jelas maknanya. Hubungan antaraunsur yaitu subjek (ibu) dengan predikat (menata), dan antara predikat dengan objek (ruang tamu) beserta keterangan (tadi pagi), merupakan kesatuan bentuk yang membentuk kepaduan makna.
Akan menjadi lain jika kata-kata itu diubah susunannya menjadi :
(2) Menata kemarin diruang tamu.
(3) Ruang tamu ibu kemarin menata.
(4) Menata ibu kemarin ruang tamu.
(5) Ruang tamu ibu menata kemarin.
Kalimat-kalimat di atas maknanya menjadi kabur karena fungsi kata-katanya tidak jelas. Unsur subjek, predikat beserta pelengkapnya tidak jelas sehingga kesatuan bentuk dan keutuhan makna tidak tercapai. Dari uraian tadi dapatlah disimpulkan bahwa harus ada keseimbangan antara pikiran atau gagasan dengan struktur bahasa yang dipergunakan. Kesepadanan kalimat diperlihatkan oleh kemampuan struktur bahasa dalam mendukung gagasan atau konsep yang merupakan kepaduan pikiran.
Pada umumnya dalam sebuah kalimat terdapat satu ide atau gagasan yang hendak disampaikan serta komentar atau penjelasan mengenai ide tersebut. Kedua hal itu perlu ditata dalam kalimat secara cermat agar informasi dan maksud penulis mencapai sasarannya.
2. Kesejajaran (Paralelisme)
Yang dimaksud dengan kesejajaran (paralelisme) dalam kalimat ialah penggunaan bentuk-bentuk bahasa yang sama atau konstruksi bahasa yang sama yang dipakai dalam susunan serial. Jika sebuah gagasan (ide) dalam suatu kalimat dinyatakan dengan frase (kelompok kata), maka gagasan-gagasan lain yang sederajat harus dinyatakan dengan frase. Jika sebuah gagasan dalam suatu kalimat
dinyatakan dengan kata benda (misalnya bentuk pe-an, ke-an), maka gagasan lain yang sederajat harus dengan kata benda juga. Demikian juga halnya bila sebuah gagasan dalam suatu kalimat dinyatakan dengan kata kerja (misalnya bentuk me-kan, di-kan) maka gagasan lainnya yang sederajat harus dinyatakan dengan jenis kata yang sama. Kesejajaran (paralelisme) akan membantu memberi kejelasan kalimat secara keseluruhan.
Perhatikan contoh berikut,
(1) Penyakit alzheimer alias pikun adalah satu segi usia tua yang paling mengerikan dan berbahaya, sebab pencegahan dan cara pengobatannya tak ada yang tahu.
Dalam kalimat diatas gagasan yang sederajat ialah kata yang mengerikan dengan berbahaya dan kata pencegahan dengan cara pengobatannya. Oleh sebab itu, bentuk yang dipakai untuk kata-kata yang sederajat dalam kalimat diatas harus sama (paralel) sehingga kalimat itu kita tata kembali menjadi kalimat dibawah ini.
(2) Penyakit alzheimer alias pikun adalah satu segi usia tua yang paling mengerikan dan membahayakan, sebab pencegahan dan pengobatannya tak ada yang tahu.
Agar lebih jelas perhatikan contoh berikut ini,
(3) Setelah dipatenkan, diproduksikan, dan dipasarkan, masih ada lagi sumber pengacauan yaitu berupa peniruan, yang langsung atau tidak langsung.
(4) Seorang teknolog bertugas memecahkan suatu masalah dengan cara tertentu dan membuat masyarakat mau memilih dan memakai cara pemecahan yang dibuatnya.
Pada kalimat (3) gagasan yang sederajat dinyatakan dengan bentuk paralel di-kan, sedangkan pada kalimat (4) gagasan yang sederajat dinyatakan dengan bentuk kata kerja me-kan.
Dari contoh-contoh dan penjelasan diatas dapat dilihat bahwa kesejajaran dalam kalimat atau penggunaan bentuk-bentuk yang sama untuk menyatakan gagasan-gagasan yang sederajat yang terdapat dalam suatu kalimat akan mendukung keefektifan yang dibuat.
3. Penekanan
Setiap kalimat memiliki sebuah gagasan (ide) pokok. Inti pikiran ini biasanya ingin ditekankan atau ditonjolkan oleh penulis atau pembicara. Seorang pembicara biasanya akan memberi penekanan pada bagian kalimat dengan memperlambat ucapan, meninggikan suara, dan sebagainya pada bagian kalimat tadi. Dalam penulisan ada berbagai cara untuk memberi penekanan dalam kalimat. Cara-cara ini akan kita bicarakan satu per satu.
a. Posisi dalam Kalimat
Untuk memberi penekanan pada bagian tertentu sebuah kalimat, penulis dapat mengemukakan bagian itu pada bagian depan kalimat. Cara ini disebut juga pengutamaan bagian kalimat.
b. Urutan yang Logis
Sebuah kalimat biasanya memberikan suatu kejadian atau peristiwa. Kejadian atau peristiwa yang berurutan hendaknya diperhatikan agar urutannya tergambar dengan logis. Urutan yang logis dapat disusun secara kronologis, dengan penataan urutan yang makinlama main penting atau dengan menggambarkan suatu proses.
c. Pengulangan Kata
Pengulangan kata dalam sebuah kalimat kadang-kadang diperlukan dengan maksudmemberi penegasan pada bagian ujaran yang dianggap penting. Pengulangan kata yangdemikian dianggap dapat membuat maksud kalimat menjadi jelas.
4. Kehematan
Unsur penting lain yang perlu diperhatikan dalam pembentukan kalimat efektif ialah kehematan. Kehematan dalam kalimat efektif merupakan kehematan dalam pemakaian kata, frase atau bentuk lainnya yang dianggap tidak diperlukan. Kehematan itu menyangkut soal gramatikal dan makna kata. Kehematan tidak berarti bahwa kata yang diperlukan atau yang menambah kejelasan makna kalimat boleh dihilangkan. Unsur-unsur penghematan apa saja yang harus diperhatikan akan dibicarakan satu per satu.
a. Pengulangan Subjek Kalimat
Penulis kadang-kadang tanpa sadar sering mengulang subjek dalam satu kalimat. Pengulangan ini tidak membuat kalimat itu menjadi lebih jelas. Oleh karena itu, pengulangan bagian kalimat yang demikian tidak diperlukan.
b. Hiponimi
Dalam bahasa ada kata yang merupakan bawahan makna kata atau ungkapan yang lebih tinggi. Di dalam makna kata tersebut terkandung makna dasar kelompok kelompok makna kata yang bersangkutan. Kata merahsudah mengandung makna kelompok warna.Kata Desembersudah bermakna bulan.
5. Kevariasian
Seseorang akan dapat menulis dengan baik bila dia juga seorang pembaca yang baik. Akan tetapi pembaca yang baik tidak berarti dia juga penulis yang baik. Seorang penulis harus menyadari bahwa tulisan yang dibuatnya akan dibaca orang lain. Membaca bertujuan agar pembaca mendapat sesuatu dari bacaannya. Ini berarti bahwa pembaca harus memahami apa yang dimaksud memberi sesuatu pengetahuan atau pengalaman kepada pembaca juga tidak ingin membuat pembaca menadi letih karena membaca. Oleh sebab itu seorang penulis harus
berusaha menghindarkan pembaca dari keletihan yang pada akhirnya akan menimbulkan kebosanan. Penulis harus berusaha agar membaca menjadi pekerjaan yang menyenangkan.
Sebuah bacaan atau tulisan yang baik merupakan suatu komposisi yang dapat memikat dan mengikat pembacanya untuk terus membaca sampai selesai. Agar dapat membuat pembaca terpikat tidaklah dapat dilakukan begitu saja. Hal ini memerlukan pengetahuan tentang bagaimana seharusnya menulis. Menulis memerlukan ketekunan, latihan, dan pengalaman.
a. Panjang-pendek Kalimat
Kalimat pendek tidak selalu mencerminkan kalimat yang baik atau efektif.
Sebaliknya kalimat yang panjang tidak selalu rumit dan tidak efektif. Di dalam komposisikeduanya bisa bekerja sama untuk menghindari kejemuan atau suasana monoton pada waktumembaca suatu tulisan. Akan menjadi tidak menyenangkan apabila membaca karangan yang terdiri dari kalimat yang seluruhnya pendek-pendek atau sebaliknya seluruhkalimatnya panjang-panjang
b. Jenis Kalimat
Variasi kalimat dapat juga dilakukan melalui berbagai jenis kalimat. Di dalam bahasa Indonesia ada 3 macam jenis kalimat. Ketiga macam jenis kalimat ini adalah kalimat berita, kalimat tanya dan kalimat perintah atau kalimat pinta.Biasanya di dalam menulis orang selalu menyatakannya dalam ujud kalimat berita. Hal ini wajar karena kalimat berita berfungsi untuk memberi tahu tentang sesuatu. Dengan demikian semua yang bersifat memberi tahu dinyatakan dengan kalimat berita. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa dalam rangka memberi informasi kalimat berita. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa dalam rangka memberi informasi kalimat perintah atau kalimat tanya tidak dipergunakan. Justru kalimat tanya kadang-kadang dapat menyegarkan sebuah paragraf.
c. Kalimat Langsung dan Tidak Langsung
Dengan kalimat langsung dapat dibangun variasi kalimat. Kadang-kadang pendapat atau pikiran seseorang akan terasa lebih jelas dan hidup bila dinyatakan dalam bentuk kalimat langsung daripada kalimat tidak langsung.
Terimakasih telah mampir diblog kami semoga apa yang saya berikan dapat bermanfaat........
No comments:
Post a Comment