Kohesi Dan Koherensi
Kohesi merujuk ke perpautan bentuk, sedangkan koherensi pada perpautan makna. Pada umumnya wacana yang baik memiliki kedua-duanya. Kalimat atau kata yang dipakai itu berkaitan, pengertian yang satu menyambung pengertian yang lain secara berturut-turut.
Kohesi adalah keserasian hubungan antara unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana sehingga terciptalah pengertian yang apik atau koheren. Kalimat Ratna dan kawannya pergi karena ia harus mendaftar tidaklah kohesif karena ia tidak jelas mengacu kepada siapa Ratma atau kawannya. Agar kalimat ini menjadi kohesif, kata Ratnaatau kawannyadapat diulang untuk menggantikan ia, tergantung pada arti yang diinginkan oleh pembicara. Salah satu unsur kohesi ialah hubungan sebab-akibat, baik antarklausa maupun antarkalimat. Hubungan sebab ditandai oleh kata seperti sebabdan karena, sedangkan hubungan akibat oleh kata sebabitudan karena itu. Karena kenyataan ini, perlu dipisahkan dua macam hubungan itu.
Banyak klausa atau kalimat yang dari segi maknanya memang berkodrat untuk menjadi penyebab, dan banyak pula klausa atau kalimat lain yang kodratnya menjadi akibat, bila kedua macam ini dijejerkan.
Kohesi dapat pula dibentuk dengan hubungan unsur-unsur yang menyatakan :
a. Pertentangan dengan memakai kata penghubung tetapi atau namun.
b. Kelebihan dengan memakai kata penghubung malahan atau bahkan.
c. Perkecualian dengan memakai kata penghubung kecuali.
d. Konsesif dengan memakai kata penghubung walaupun atau meskipun.
e. Tujuan dengan memakai kata penghubung agar atau supaya.
Kohesi dapat pula ditandai oleh pengulangan kata atau frasa. Kohesi sering pula diciptakan dengan memakai kata yang maknanya sama sekali berbeda dengan makna kata yang diacunya. Akan tetapi , yang penting dalam hal ini ialah bahwa kata yang digantikan dan kata pengganti menunjuk ke referen yang sama. Dengan kata lain, kedua kata itu mempunyai ko-referensi.
Kalimat yang tidak mengandung unsur yang lengkap tidak selalu berarti kohesif dan koheren. Dalam berbahasa, orang bahkan cenderung berbuat dengan efisien, yakni dengan mempergunakan kata yang sedikit dapat disampaikan maksudnya secara lengkap. Untuk mencapai keefisienan itu, orang sering meniadakan unsur-unsur dalam kalimat yang merupakan pengulangan.
Kohesi dalam wacana tidak hanya ditentukan oleh adanya koreferensi, tetapi juga oleh adanya hubungan leksikal. Hubungan antara kata meubel dan kata kursi, misalnya ialah hubungan hiponimi. Kursi (meja, lemari, dan beberapa yang lain) merupakan hiponim, yakni kata yang maknanya dipayungi oleh kata meubel.
Sejajar dengan hubungan hiponimi, hubungan “bagian-keutuhan” dipakai pula untuk menunjukkan kohesi dan koherensi sekaligus. Kemudi ialah bagian mobil (atau kapal, dan sebagainya), yang merupakan keutuhan. Hubungan bagian-keutuhan itu dipakai dalam wacana penyapa maupun pesapa segera menghubungkan utuhan itu sebagai referen bagian sehingga terciptalah koherensi.
Seperti telah disiratkan disana-sini, kohesi bentuk lahir tidak hanya menyatakan kohesi belaka, melainkan yang penting ialah bahwa kohesi (yang baik) menyiratkan koherensi, yaitu hubungan semantik yang mendasari wacana itu. Bahwa koherensi dan bukan semata-semata kohesila yang penting diberikan contohnya pada kalimat wacana berikut ini. Pasangan seperti (1) tidak menunjukkan kohesi sama sekali, tetapi karena perangkat itu koheren, terbentuklah wacana yang apik.
(1) Arsyad : Ada telepon, Ma!
Istri Arsyad : Aku Sedang mandi!
Arsyad, yang asik membaca koran, mendengar telepon berdering, dan meminta istrinya menjawabnya. Akan tetapi, rupanya istrinya sedang mandi dan tidak dapat melaksanakan permintaan suaminya itu. Memang yang diucapkan oleh istrinya hanyalah alasan mengapa ia tidak dapat melakukan permintaan suami.
Dalam bahasa Indonesia ada kata tertentu seperti dia, tetapi, meskipun, waktu itu yang dipakai untuk menjadikan wacana itu kohesif sehingga dapat tercapai koherensi.
Kohesi merujuk ke perpautan bentuk, sedangkan koherensi pada perpautan makna. Pada umumnya wacana yang baik memiliki kedua-duanya. Kalimat atau kata yang dipakai itu berkaitan, pengertian yang satu menyambung pengertian yang lain secara berturut-turut.
Kohesi adalah keserasian hubungan antara unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana sehingga terciptalah pengertian yang apik atau koheren. Kalimat Ratna dan kawannya pergi karena ia harus mendaftar tidaklah kohesif karena ia tidak jelas mengacu kepada siapa Ratma atau kawannya. Agar kalimat ini menjadi kohesif, kata Ratnaatau kawannyadapat diulang untuk menggantikan ia, tergantung pada arti yang diinginkan oleh pembicara. Salah satu unsur kohesi ialah hubungan sebab-akibat, baik antarklausa maupun antarkalimat. Hubungan sebab ditandai oleh kata seperti sebabdan karena, sedangkan hubungan akibat oleh kata sebabitudan karena itu. Karena kenyataan ini, perlu dipisahkan dua macam hubungan itu.
Banyak klausa atau kalimat yang dari segi maknanya memang berkodrat untuk menjadi penyebab, dan banyak pula klausa atau kalimat lain yang kodratnya menjadi akibat, bila kedua macam ini dijejerkan.
Kohesi dapat pula dibentuk dengan hubungan unsur-unsur yang menyatakan :
a. Pertentangan dengan memakai kata penghubung tetapi atau namun.
b. Kelebihan dengan memakai kata penghubung malahan atau bahkan.
c. Perkecualian dengan memakai kata penghubung kecuali.
d. Konsesif dengan memakai kata penghubung walaupun atau meskipun.
e. Tujuan dengan memakai kata penghubung agar atau supaya.
Kohesi dapat pula ditandai oleh pengulangan kata atau frasa. Kohesi sering pula diciptakan dengan memakai kata yang maknanya sama sekali berbeda dengan makna kata yang diacunya. Akan tetapi , yang penting dalam hal ini ialah bahwa kata yang digantikan dan kata pengganti menunjuk ke referen yang sama. Dengan kata lain, kedua kata itu mempunyai ko-referensi.
Kalimat yang tidak mengandung unsur yang lengkap tidak selalu berarti kohesif dan koheren. Dalam berbahasa, orang bahkan cenderung berbuat dengan efisien, yakni dengan mempergunakan kata yang sedikit dapat disampaikan maksudnya secara lengkap. Untuk mencapai keefisienan itu, orang sering meniadakan unsur-unsur dalam kalimat yang merupakan pengulangan.
Kohesi dalam wacana tidak hanya ditentukan oleh adanya koreferensi, tetapi juga oleh adanya hubungan leksikal. Hubungan antara kata meubel dan kata kursi, misalnya ialah hubungan hiponimi. Kursi (meja, lemari, dan beberapa yang lain) merupakan hiponim, yakni kata yang maknanya dipayungi oleh kata meubel.
Sejajar dengan hubungan hiponimi, hubungan “bagian-keutuhan” dipakai pula untuk menunjukkan kohesi dan koherensi sekaligus. Kemudi ialah bagian mobil (atau kapal, dan sebagainya), yang merupakan keutuhan. Hubungan bagian-keutuhan itu dipakai dalam wacana penyapa maupun pesapa segera menghubungkan utuhan itu sebagai referen bagian sehingga terciptalah koherensi.
Seperti telah disiratkan disana-sini, kohesi bentuk lahir tidak hanya menyatakan kohesi belaka, melainkan yang penting ialah bahwa kohesi (yang baik) menyiratkan koherensi, yaitu hubungan semantik yang mendasari wacana itu. Bahwa koherensi dan bukan semata-semata kohesila yang penting diberikan contohnya pada kalimat wacana berikut ini. Pasangan seperti (1) tidak menunjukkan kohesi sama sekali, tetapi karena perangkat itu koheren, terbentuklah wacana yang apik.
(1) Arsyad : Ada telepon, Ma!
Istri Arsyad : Aku Sedang mandi!
Arsyad, yang asik membaca koran, mendengar telepon berdering, dan meminta istrinya menjawabnya. Akan tetapi, rupanya istrinya sedang mandi dan tidak dapat melaksanakan permintaan suaminya itu. Memang yang diucapkan oleh istrinya hanyalah alasan mengapa ia tidak dapat melakukan permintaan suami.
Dalam bahasa Indonesia ada kata tertentu seperti dia, tetapi, meskipun, waktu itu yang dipakai untuk menjadikan wacana itu kohesif sehingga dapat tercapai koherensi.
Trimakasih sudah mampir di blog kami semoga bermanfaat Trimakasih .....
No comments:
Post a Comment