Saturday, August 3, 2019

Pedoman Penulisan Kata

Pedoman Penulisan Kata

Pedoman penulisan kata meliputi 11 hal, yaitu kata dasar; kata turunan; bentuk ulang; gabungan kata; suku kata; kata depan di, ke, dan dari; partikel; singkatan dan akronim; angka dan bilangan; kata ganti ku-, kau-, -mu, dan –nya; serta kata si dan sang.

A. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya:

Buku itu sangat menarik.

Ibu mengharapkan keberhasilanmu

Dia bertemu dengan kawannya di kantor pos

B.Kata Turunan

1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan bentuk dasarnya.
Misalnya: berjalan, dipermainkan, gemetar, lukisan, menengok, petani.

2. Imbuhan dirangkaikan dengan tanda hubung jika ditambahkan pada bentuk singkatan atau kata dasar yang bukan bahasa Indonesia.
Misalnya: mem-PHK-kan, di-PTUN-kan, di-upgrade,me-recall.

3. Jika bentuk dasarnya berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
Misalnya: bertepuk tangan, garis bawahi, menganak sungai, sebarluaskan.

4. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya: dilipatgandakan, menggarisbawahi, menyebarkan, penghancurleburan,
pertanggungjawaban.

5. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya: adipati, aerodinamika, antarkota, antibiotik, anumerta, audiogram, awahama, bikarbonat, biokimia, caturtunggal, dasawarsa, dekameter.

Catatan :

1.) Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya huruf kapital, tanda hubung (-) digunakan diantara kedua unsur itu.
Misalnya: non-Indonesia, pan-Afrikanisme, pro-Barat.

2.) Jika kata maha sebagai unsur gabungan merujuk kepada Tuhan yang diikuti oleh kata berimbuhan, gabungan itu ditulis terpisah dan unsur-unsurnya dimulai dengan huruf kapital.

Misalkan: Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
Kita berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Pengampun.

3.) Jika kata maha sebagai unsur gabungan merujuk kepada Tuhan dan diikuti oleh kata dasar, kecuali kata esa, gabungan itu ditulis serangkai.

Misalnya: Tuhan Yang Mahakuasa menentukan arah hidup kita.
Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.

4.) Bentuk-bentuk terikat dari bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti pro, kontra, dan anti, dapat digunakan sebagai bentuk dasar.

Misalnya: Sikap masyarakat yang pro lebih banyak daridapa kontra.
Mereka memperlihatkan sikap anti terhadap kejahatan.

5.) Kata tak sebagai unsur gabungan dalam peristilahan ditulis serangkai dengan bentuk dasar yang mengikutinya, tetapi ditulis terpisah jika diikuti oleh bentuk berimbuhan. Misalnya: taklaik terbang, taktembus cahaya, tak bersuara, tak terpisahkan.


C. Bentuk Ulang

Bentuk ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung di antara unsur-unsurnya. Misalnya: anak-anak, berjalan-jalan, biri-biri, buku-buku, hati-hati.

Catatan:

1.) Bentuk ulang gabungan kata ditulis dengan mengulang unsur pertama saja.

Misalnya: surat kabar = surat-surat kabar
kapal barang = kapal-kapal barang
rak buku = rak-rak buku

2.) Bentuk ulang gabungan kata yang unsur keduanya adjektiva ditulis dengan mengulang unsur pertama atau unsur keduanya dengan makna yang berbeda.

Misalnya: orang besar = orang-orang besar
orang besar-besar
gedung tinggi = gedung-gedung tinggi
gedung tinggi-tinggi

3.) Awalan dan akhiran ditulis serangkai dengan bentuk ulang.

Misalnya: Kekanak-kanakan, perundang-undangan, melambai-lambaikan, dibesar-besarkan.
Catatan: Pemerintah sedang mempersiapkan rancangan undang-undang baru. Kami mengundang orang-orang yang berminat saja.

D. Gabungan kata

1. Unsur-unsur gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk ditulis terpisah.

Misalnya: duta besar, kambing hitam, simpang empat, mata pelajaran, meja tulis.

2. Gabungan kata yang dapat menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan menambahkan tanda hubung di antara unsur-unsurnya untuk menegaskan pertalian unsur yang bersangkutan.

Misalnya: anak-istri Ali, anak istri-Ali
Ibu-bapak kami, ibu bapak-kami

3. Gabungan kata yang dirasakan sudah padu ditulis serangkai.

Misalnya: acapkali, adakalanya, akhirulkalam, alhamdulillah, apalagi, astaghfirullah, bagaimana.


Terimakasih telah mampir di blog kami semoga bermanfaat...

No comments:

Post a Comment